RN, Sarolangun – Kondisi air sungai Batangasai saat ini tidak lagi bening seperti dahulu. Saat ini perubahan yang sangat mencolok ini dampak dari menjamur nya aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang bebas beroperasi di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berimbas kerusakan dan terancam punah ekosistem habitat hayati yang hidup di dalam air sungai yang diduga dampak menjamur nya peti yang memakai alat berat jenis eksavator.
Investigasi Reportase Nusantara dan Tim PWI Sarolangun, sedikitnya ditemukan ada puluhan alat berat berbagai jenis merek melakukan aktivitas pekerjaan di sepanjang daerah aliran sungai Batang Asai, mulai dari desa Pekan Gedang, Raden Anom, Datuk Nan Suo dan Desa Karang Jering.
Mirisnya, meski aktivitas penambangan yang melawan hukum dan terancam sanksi pidana, para pelaku seolah tak takut.
Salah seorang warga Desa Pekan Gedang dikonfirmasi RN, mengatakan bahwa keruhnya air sungai Batang Asai saat ini dampak dari aktivitas peti, yang mengeruk lobang lobang di sepanjang tepi sungai.

“Makanya air sungai seperti sekarang ini,” ujar sumber yang enggan disebutkan namanya, belum lama ini.
Informasi terangkum, kegiatan PETI yang berada di Kecamatan Pelosok Kabupaten Sarolangun ini banyak melibatkan banyak nama pejabat desa
Salah satu nama yang diduga ikut jadi pemain peti oknum aparat desa Bukit Sulah. Namun aparatur desa Bukit Sulah belum berhasil ditemui saat dikonfirmasi di kantor desa.
Camat Batang Asai di temui di kantor pada Selasa siang (28/7/2026)belum berhasil di jumpai. Menurut warga camat sedang turun ke Sarolangun menghadiri pelantikan keluarga jadi kepala sekolah ujar warga.
Kapolsek Kecamatan Batang Asai saat di temui di Mapolsek juga belum berhasil di jumpai. Menurut petugas jaga Polsek, Kapolsek belum ada di kantor, masih dalam perjalanan dari luar. (Asm)








