Oleh : Kgs. Dedi Miryanto, S.E. (KDM) Penggiat dan Pemerhati Budaya Kalianda, Lampung Selatan
Duka yang menyelimuti bangsa atas wafatnya Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu tidak hanya dirasakan di lingkungan militer dan pemerintahan. Ryamizard berpulang pada Minggu, 31 Mei 2026, pukul 14.03 WIB di ruang CICU Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, dalam usia 76 tahun.
Sosok yang pernah mencapai jabatan tertinggi sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) serta mengemban amanah sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia ke-25 periode 2014–2019 itu juga meninggalkan jejak mendalam di tengah masyarakat adat Lampung.
Di pesisir Lampung Selatan, tepatnya di Way Urang, Kalianda, kabar kepergiannya turut membangkitkan kembali ingatan masyarakat adat tentang seorang prajurit yang memahami bahwa kekuatan negara tidak semata bertumpu pada alutsista, institusi pertahanan, maupun kekuatan politik, melainkan juga pada nilai-nilai budaya yang hidup dan tumbuh di tengah rakyatnya.
Bagi masyarakat Marga Legun, nama Ryamizard Ryacudu bukan sekadar bagian dari sejarah pertahanan nasional. Ia dikenang sebagai seorang jenderal yang menorehkan karier militer hingga mencapai puncak kepemimpinan Angkatan Darat, sebelum kemudian mengabdikan diri sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia.
Namun bagi masyarakat adat Lampung, sosoknya memiliki makna yang lebih luas. Ia adalah tokoh yang pernah hadir di Lamban Balak, rumah adat yang menjadi simbol marwah dan identitas masyarakat setempat. Di tempat itu, ia menyapa para penyimbang adat, mendengarkan pandangan para tetua, serta menegaskan pentingnya adat sebagai salah satu fondasi dalam kehidupan berbangsa.
Ketika Negara Bersua Adat
Minggu, 30 Juni 2019, menjadi salah satu hari yang masih tersimpan dalam ingatan masyarakat Way Urang.
Langit pagi terbentang cerah di atas Lamban Balak Marga Legun. Para penyimbang adat, tokoh masyarakat, unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, tokoh agama, pemuda, serta berbagai elemen masyarakat berkumpul dalam sebuah momentum besar yang memadukan nilai budaya, keagamaan, dan kebangsaan.
Hari itu bukan sekadar agenda seremonial biasa.
Masyarakat hadir dalam rangka Silaturahmi Besar dan Halalbihalal Masyarakat Adat Lampung, yang sekaligus menjadi ruang bersama untuk memperkuat komitmen terhadap persatuan nasional melalui Deklarasi Kebangsaan.
Di tengah suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, para peserta yang hadir menegaskan pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan golongan yang menjadi kekayaan Indonesia.
Deklarasi tersebut menjadi penegasan bahwa keberagaman budaya Nusantara bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang memperkokoh persatuan Indonesia. Pesan itu sejalan dengan pandangan Ryamizard yang sepanjang kariernya meyakini bahwa ketahanan nasional harus bertumpu pada persatuan rakyat dan kekuatan karakter bangsa.
Kedatangan Ryamizard Ryacudu kala itu memberikan makna tersendiri bagi acara tersebut. Sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia sekaligus Ketua Yayasan Penyimbang Adat Lampung (Yapemal), ia hadir membawa pesan yang menyentuh dua ranah sekaligus: kebangsaan dan kebudayaan.
Di tengah suasana yang akrab, Ryamizard tidak menampilkan jarak sebagai pejabat negara. Ia berbincang dengan para penyimbang adat, mendengarkan petuah para tetua, serta mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh penghormatan.
Momentum itu menjadi simbol pertemuan antara semangat kebangsaan dan kearifan lokal.
Di bawah naungan Lamban Balak, adat tidak ditempatkan sebagai identitas yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian yang menyatu dengan cita-cita Indonesia sebagai bangsa yang majemuk namun tetap satu.
Bagi masyarakat yang hadir, peristiwa tersebut meninggalkan kesan mendalam.
Seorang jenderal datang bukan hanya membawa pesan pertahanan negara, tetapi juga mengajak masyarakat untuk melihat bahwa menjaga adat, mempererat silaturahmi, dan merawat persatuan bangsa merupakan bagian dari tanggung jawab bersama sebagai warga Indonesia.
Adat sebagai Kekuatan Bangsa
Dalam kesempatan itu, Ryamizard menyampaikan pandangan yang hingga kini masih dikenang masyarakat:
“Adat dan negara itu satu, tidak bisa dipisahkan. Menjaga adat sama artinya dengan menjaga keutuhan negara.”
Pernyataan tersebut mencerminkan keyakinannya bahwa kekuatan bangsa tidak hanya dibangun melalui aspek politik, ekonomi, dan pertahanan, tetapi juga melalui nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Baginya, adat bukan sekadar peninggalan masa lalu.
Adat hidup dalam musyawarah, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, serta semangat kebersamaan yang menjadi perekat kehidupan sosial. Nilai-nilai itulah yang membantu menjaga harmoni masyarakat di tengah berbagai perubahan zaman.
Ryamizard memahami bahwa menjaga Indonesia tidak selalu dimulai dari ruang-ruang kekuasaan.
Sering kali ia tumbuh dari balai adat, dari pertemuan kampung, dan dari kesadaran kolektif untuk merawat warisan leluhur.
Seorang Jenderal, Seorang Sutan Adat
Hubungan Ryamizard Ryacudu dengan masyarakat adat Lampung sesungguhnya tidak berhenti pada kapasitasnya sebagai pejabat negara maupun Ketua Yayasan Penyimbang Adat Lampung.
Di lingkungan adat, beliau juga dikenal sebagai sosok yang menyandang gelar kehormatan Sutan Tuan Kacca Makhga, sebuah gelar yang mencerminkan kedekatan, penghormatan, sekaligus amanah budaya yang diberikan oleh masyarakat adat kepadanya.
Dalam tradisi Lampung, gelar adat bukan sekadar simbol penghormatan. Gelar merupakan pengakuan atas hubungan batin dengan masyarakat, sekaligus kepercayaan untuk menjaga nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.
Karena itu, penyematan gelar adat memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada penghargaan formal. Di dalamnya terkandung tanggung jawab moral untuk menjaga martabat adat, memperkuat persaudaraan, dan menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
Bagi masyarakat adat, gelar Sutan Tuan Kacca Makhga bukan sekadar penghormatan kepada pribadi Ryamizard, melainkan pengakuan atas komitmennya dalam menjaga jembatan antara negara, adat, dan persatuan kebangsaan.
Bagi masyarakat yang mengenalnya, Ryamizard menunjukkan penghormatan tersebut melalui sikap dan tindakannya. Ia memahami bahwa adat bukan hanya simbol budaya yang hadir dalam upacara atau seremoni, melainkan sistem nilai yang membentuk karakter masyarakat.
Gelar tersebut menjadi cerminan dari peran yang dijalankannya selama ini: menjembatani semangat kebangsaan dengan kearifan lokal, serta menunjukkan bahwa identitas Indonesia tumbuh dari keberagaman budaya yang hidup dan berkembang di seluruh Nusantara.
Dalam diri Ryamizard, masyarakat melihat perpaduan antara ketegasan seorang prajurit dan kebijaksanaan seorang pemangku nilai.
Ia berdiri tegak menjaga kedaulatan negara, namun tetap menundukkan hati di hadapan tradisi dan kehormatan adat.
Di situlah letak keistimewaannya.
Ia tidak memandang adat sebagai bagian yang terpisah dari Indonesia, melainkan sebagai salah satu akar yang membuat pohon kebangsaan tetap kokoh menghadapi perubahan zaman.
Seorang Jenderal di Tengah Para Penyimbang
Suasana di Lamban Balak hari itu memperlihatkan hubungan yang hangat antara seorang pejabat negara dan masyarakat adat.
Tidak ada sekat yang mencolok.
Tidak ada jarak yang berlebihan.
Ryamizard memberikan ruang kepada para penyimbang dan tokoh adat untuk menyampaikan pandangan mereka. Sikap tersebut selaras dengan nilai yang dijunjung tinggi dalam tradisi Lampung, yaitu penghormatan terhadap kebijaksanaan dan martabat para tetua.
Kgs. Dedi Miryanto, S.E. (KDM), penggiat dan pemerhati budaya yang berasal dari trah Dzuriyat Kesultanan Palembang Darussalam dan bermukim di Kalianda, turut menyaksikan langsung peristiwa tersebut.
Menurutnya, Ryamizard adalah sosok pemimpin yang mampu memadukan ketegasan seorang prajurit dengan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya.
“Beliau memiliki kapasitas kepemimpinan yang kuat, tetapi tetap menunjukkan penghormatan kepada adat dan budaya. Beliau memahami bahwa budaya bukan pelengkap bangsa, melainkan salah satu tiang penyangganya,” ujar KDM.
Menurut KDM, kehadiran Ryamizard dalam Silaturahmi Besar, Halalbihalal, dan Deklarasi Kebangsaan di Lamban Balak Marga Legun saat itu bukan sekadar kunjungan seorang pejabat negara.
Kehadirannya menjadi simbol bahwa nilai-nilai adat, keagamaan, dan kebangsaan dapat berjalan beriringan dalam satu harmoni yang saling menguatkan.
Menjaga Warisan di Tengah Perubahan Zaman
Indonesia terus bergerak menghadapi berbagai tantangan zaman, mulai dari globalisasi, perkembangan teknologi, hingga perubahan sosial yang berlangsung semakin cepat.
Di tengah dinamika tersebut, pesan yang pernah disampaikan Ryamizard di Way Urang tetap relevan.
Kemajuan tidak harus menghilangkan identitas.
Modernitas tidak harus memutus hubungan dengan tradisi.
Sebaliknya, budaya dapat menjadi landasan moral yang membantu masyarakat menghadapi perubahan tanpa kehilangan jati dirinya.
Nilai-nilai adat yang diwariskan turun-temurun mengajarkan pentingnya kebersamaan, penghormatan, tanggung jawab sosial, dan keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai inilah yang menjadi salah satu kekuatan bangsa dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Dalam konteks itulah warisan pemikiran Ryamizard menemukan maknanya. Ia mengingatkan bahwa ketahanan bangsa tidak hanya dibangun melalui kekuatan fisik dan institusi, tetapi juga melalui ketahanan budaya yang menjaga masyarakat tetap terhubung dengan akar identitasnya.
Warisan yang Tetap Hidup
Jika dibaca melalui lensa sejarah kebudayaan, Ryamizard Ryacudu menghadirkan sosok yang semakin jarang ditemukan dalam kehidupan modern: seorang tokoh negara yang tidak tercerabut dari akar budayanya.
Ia memahami bahwa bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi dan pertahanan, melainkan juga oleh kemampuan menjaga ingatan kolektif serta menghormati nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.
Sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat dan Menteri Pertahanan Republik Indonesia ke-25, Ryamizard telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk menjaga kedaulatan negara. Namun di balik atribut keprajuritan dan jabatan kenegaraan yang disandangnya, terdapat sosok yang tetap memelihara kedekatan dengan nilai-nilai adat dan budaya Nusantara.
Kini Ryamizard Ryacudu telah berpulang.
Namun gagasan dan teladan yang pernah ia tinggalkan masih hidup dalam ingatan banyak orang.
Bagi masyarakat Marga Legun dan Way Urang, yang dikenang bukan hanya seorang mantan Menteri Pertahanan atau seorang jenderal berbintang. Mereka juga mengenang sosok yang pernah hadir di rumah adat mereka, yang menghormati budaya, dan yang memandang adat sebagai bagian penting dari kehidupan berbangsa.
Di Lamban Balak Marga Legun, kenangan tentang pertemuan itu masih tersimpan.
Generasi boleh berganti.
Waktu terus berjalan.
Namun pesan tentang pentingnya menjaga budaya sebagai bagian dari menjaga Indonesia tetap hidup dalam percakapan masyarakat, dalam musyawarah adat, dan dalam semangat untuk merawat warisan leluhur.
Dari pesisir Way Urang, kenangan itu terus mengalir menjadi bagian dari narasi yang lebih besar tentang Indonesia—sebuah negeri yang dibangun bukan hanya oleh kekuatan institusi dan pembangunan fisik, tetapi juga oleh nilai-nilai budaya yang tumbuh dan dipelihara oleh rakyatnya.
Sebagaimana ombak yang terus menyentuh pantai Kalianda dari masa ke masa, demikian pula warisan pemikiran dan keteladanan Ryamizard Ryacudu akan terus menemukan tempatnya dalam ingatan masyarakat.
Kini sosoknya telah tiada, tetapi pesan yang pernah ia tinggalkan tetap hidup.
Di ruang-ruang adat, dalam musyawarah masyarakat, dan di tengah perjalanan bangsa yang terus berubah, nama Ryamizard Ryacudu akan dikenang bukan hanya sebagai seorang jenderal, bukan hanya sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia ke-25, tetapi juga sebagai seorang anak bangsa yang memahami bahwa Indonesia berdiri kokoh karena akarnya tetap terjaga.
Sebab sebagaimana yang diyakininya, kekuatan negara dan kekuatan budaya bukanlah dua hal yang saling berhadapan.
Keduanya adalah dua unsur yang saling menghidupi dalam satu rumah besar bernama Indonesia.
Selamat jalan, Ayahanda Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu, Sutan Tuan Kacca Makhga.
Engkau telah menorehkan jejak panjang pengabdian sebagai prajurit hingga mencapai puncak kepemimpinan Angkatan Darat, mengemban amanah sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia ke-25, sekaligus menjadi bagian dari keluarga besar adat yang senantiasa menjunjung tinggi nilai persatuan dan kebangsaan.
Jejak pengabdianmu telah tercatat dalam sejarah bangsa. Sementara kecintaanmu terhadap adat, budaya, dan Indonesia telah menjelma menjadi warisan moral yang akan terus hidup dalam ingatan masyarakat Lampung dan seluruh anak bangsa.
Karena pada akhirnya, sebagaimana yang engkau tunjukkan semasa hidup, adat dan negara bukanlah dua jalan yang berbeda.
Keduanya adalah dua arus yang bertemu dalam satu muara besar bernama Indonesia.








