RN, Cilacap – Nama Nusakambangan selama ini identik dengan lembaga pemasyarakatan berpengamanan tinggi. Namun, di balik citra tersebut, pulau yang berada di selatan Jawa Tengah itu kini menunjukkan wajah yang berbeda. Lahan-lahan yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini disulap menjadi kawasan produktif yang mendukung ketahanan pangan sekaligus menjadi sarana pembinaan bagi warga binaan.
Transformasi tersebut merupakan implementasi 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di bidang ketahanan pangan yang digagas Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Agus Andrianto. Di sana, sentra produksi dikelola jajaran pemasyarakatan bersama warga binaan, mulai dari budidaya udang vaname, sidat, ikan air tawar, peternakan ayam dan bebek petelur, produksi pupuk, hingga pengembangan tanaman anggur dan anggrek.
Pada Sabtu (20/6) Menteri Agus bersama Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, meninjau berbagai program ketahanan pangan dan pembinaan kemandirian di Pulau Nusakambangan. Menteri Agus menjelaskan bahwa pengembangan kawasan produktif di Nusakambangan merupakan bagian dari upaya optimalisasi lahan idle yang dimiliki pemasyarakatan agar memberikan manfaat yang lebih luas.
“Kami memanfaatkan lahan-lahan yang sebelumnya belum digunakan untuk membantu kebutuhan internal pemasyarakatan (termasuk penyediaan bahan pangan bagi warga binaan),” ujar Menteri Agus.
Menurutnya, hasil produksi yang dikembangkan di Nusakambangan diharapkan dapat berkontribusi terhadap ketersediaan pasokan pangan, termasuk komoditas seperti telur, sehingga turut membantu menjaga stabilitas pasokan dan harga di masyarakat.
Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, mengaku terkesan melihat langsung perubahan yang terjadi di Nusakambangan. Menurutnya, Nusakambangan yang selama ini dikenal masyarakat sebagai kawasan tertutup dan menyeramkan kini mampu menghadirkan manfaat nyata melalui pengelolaan lahan produktif.
“Kami datang untuk melihat upaya peningkatan ketahanan pangan. Kami melihat sendiri lahan tidur di sini disulap Pak Agus dan jajaran menjadi lahan produktif. Ini luar biasa dan layak diapresiasi,” ujar Titiek.
Ia menilai keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa dengan kemauan dan pengelolaan yang baik, lahan yang tersedia dapat memberikan manfaat yang luas. Bahkan, menurutnya, apa yang dilakukan di Nusakambangan dapat menjadi contoh bagi daerah lain.
“Nusakambangan saja bisa seperti ini, apalagi tempat-tempat lain. Kita harus punya kemauan, dikaruniai Tuhan tanah yg begitu subur, kita manfaatkan sebaik-baiknya,” tambahnya.
Lebih dari sekadar menghasilkan komoditas pangan, program tersebut juga menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan. Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan pertanian, perikanan, dan peternakan, mereka memperoleh keterampilan baru yang dapat menjadi bekal setelah kembali ke masyarakat.
Titiek menilai aspek pembinaan tersebut menjadi nilai penting dari program yang dijalankan Kemenimipas. Selain memperoleh pengetahuan dan pengalaman kerja, warga binaan juga mendapatkan premi hasil kegiatan kerja yang dapat digunakan sebagai bekal saat bebas nanti.
Menteri Agus menegaskan bahwa pengembangan kawasan produktif di Nusakambangan akan terus dievaluasi dan disempurnakan agar manfaatnya semakin besar, baik bagi pembinaan warga binaan maupun bagi masyarakat luas.
Transformasi Nusakambangan menunjukkan bahwa pemasyarakatan tidak hanya berbicara tentang menjalani pidana, tetapi juga tentang membangun harapan, keterampilan, dan kesempatan baru. Dari lahan yang dulu terbengkalai, kini tumbuh berbagai hasil yang tidak hanya menopang ketahanan pangan, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi warga binaan untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti. (Red)








