RN, Palembang – Janji Manis perbaikan rumah roboh milik pasangan Lansia, A Diding dan Yuli di Jalan Seduduk Putih yang hingga kini belum terealisasi mencerminkan lambatnya birokrasi dan ketidakpedulian sosial dari BAZNAS Kota Palembang serta pemerintah setempat.
Tiga bulan berlalu sejak gubuk keluarga A Diding dan Yuli roboh, namun bantuan yang dijanjikan oleh BAZNAS Palembang dan pihak kecamatan terbukti hanya menjadi komoditas penenang opini publik yang miskin realisasi.
Kehadiran sejumlah pejabat ke lokasi musibah beserta janji manis pengurusan rincian anggaran yang diwakili oleh Bapak Agung, kini tampak tak lebih dari sekadar sandiwara birokrasi guna meredam kritik atas bobroknya respons kemanusiaan pemerintah setempat.
Ironisnya, di tengah gegap gempita perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2026 lalu, keluarga miskin ini justru dipaksa tetap terjajah oleh ketidakpastian dan pembiaran, bertahan hidup di bawah langit terbuka tanpa kepedulian nyata.
Dalih “masih dalam proses” yang terus dilontarkan BAZNAS hingga pertengahan September ini bukan lagi sekadar alasan teknis, melainkan bentuk nyata dari hilangnya empati, lambannya eksekusi dana umat, dan kegagalan total aparat pemerintah dalam memberikan hak hidup yang layak bagi warganya yang sedang tertimpa musibah.(Vid)








